Pemakaian Batik Gumelem Sebagai ‘Wujud Mencintai Banjarnegara’

BANJARNEGARA – Industri batik di Indonesia terus tumbuh dan puncaknya terjadi pada tanggal 2 Oktober 2009 saat UNESCO mengukuhkan Batik Indonesia sebagai “Masterpice of The Oral and Intangible Heritage of Humanity“.  Dengan adanya pengakuan tersebut, kain batik yang dulunya dianggap kuno dan hanya digunakan sebagai pelengkap kebaya atau beskap, kini dapat dipadukan dengan berbagai unsur fashion seperti rok, ikat pinggang, celana panjang, dan sebagai pelengkap desain interior.

Gairah pemakaian batik melahirkan pesaing dari negara lain, yaitu China. Meniru motif batik  Indonesia, Negeri Tirai Bambu tersebut memproduksi kain printing bermotif batik yang dijual dengan harga jauh lebih murah. Namun, tahukah Anda bahwa batik printing bukanlah batik? Itu hanya kain bermotif batik. Mengapa demikian? Karena batik printing dicetak menggunakan mesin sehingga kain tidak terkena malam atau lilin batik. 

Menurut SNI 0239:2014, “Batik adalah kerajinan tangan sebagai hasil pewarnaan secara perintangan menggunakan malam (lilin batik) panas sebagai perintang warna dengan alat utama pelekat lilin batik berupa canting tulis dan atau canting cap untuk membentuk motif tertentu yang memiliki warna.

Permintaan akan batik printing meningkat tajam membuat produk China tersebut merajai pasar di Indonesia. Apalagi banyak masyarakat yang belum paham bahwa printing bukanlah batik. Keadaan ini membuat pelaku industri batik tulis tanah air ‘gigit jari’, tak terkecuali pengrajin Batik Gumelem.

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara telah berupaya untuk meningkatkan kualitas produk Batik Gumelem agar mampu bersaing dengan batik luar daerah melalui kegiatan Pelatihan Pewarnaan dan Pemasaran yang dilaksanakan selama tiga hari (18-20 Juni 2019). Setelah kegiatan tersebut, bentuk dukungan pemerintah selanjutnya kepada pengrajin adalah dengan membeli dan mengenakan batik lokal. 

Kepala Dinas Perindagkop UKM Joi Setiawan S.Sos., M.Si, pada kesempatan penutupan kegiatan pelatihan menyampaikan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam dan akan membantu pengrajin yang berupaya untuk melestarikan budaya Indonesia ini. Batik Gumelem telah menjadi salah satu ikon Kabupaten Banjarnegara.

“Kita nanti akan matur (bicara) dengan Pak Bupati untuk menggalakkan lagi penggunaan Batik Gumelem bagi Aparatur Sipil Negara setiap hari Rabu dan Kamis,” ungkap Joi.

Adanya peraturan daerah yang mewajibkan pemakaian Batik Gumelem ini memang sudah lama dinantikan oleh para pengrajin. Lemahnya daya beli masyarakat terhadap produk tersebut membuat para generasi millenials enggan untuk meneruskan tradisi membatik. Mereka lebih memilih untuk bekerja di pabrik atau merantau ke luar kota. Jika kita berkeliling ke Kecamatan Susukan, kita akan menjumpai bahwa mayoritas pembatik adalah ibu-ibu yang rambutnya mulai memutih. 

Bayangkan saja, upah membatik untuk jenis batik tulis hanya berkisar antara Rp30.000-Rp70.000 per lembar. Padahal proses pengerjaannya antara 3-7 hari, tergantung kerumitan motif. Bisa kita hitung berapa upah per harinya? 

Upah yang minim tersebut tentunya bukan tanpa alasan. Berdasarkan penuturan pengrajin, calon konsumen tidak mau membeli Batik Tulis Gumelem dengan harga Rp500.000 ke atas. Ditawari batik dengan harga Rp200.000 saja bilangnya mahal. Jika dibandingkan dengan daerah lain, seperti Lasem (Rembang) misalnya, harga batik tulis bisa mencapai lebih dari satu juta rupiah. Bukankah harga Batik Tulis Gumelem masih tergolong murah?

Tolong jangan bandingkan dengan harga kain printing. Karena printing yang memproduksi mesin, bukan manual oleh manusia, tentu ongkos produksinya lebih murah sehingga harga jualnya pun jauh berbeda. 

Mari kita stop pembelian batik printing, apalagi kain printing yang impor dari China. Jika kita mencintai, membeli, dan memakai batik daerah sendiri, bukan tidak mungkin industri batik akan kembali tumbuh dan generasi millenials akan terjun untuk membatik.

 

(SNW)

Leave a Comment